Showing posts with label visa saudi. Show all posts
Showing posts with label visa saudi. Show all posts

Friday, August 13, 2010

Umroh dari Arab Saudi

Bapak / Ibu,

Apa khabar ?

Tidak afdhol rasanya jika kita menulis Arab Saudi tanpa menuliskan tentang yang satu ini. Salah satu daya tarik Saudi adalah ini. Mekkah itu seperti di sebelah rumah kita. Terharu ketika pertama sekali melihat Mekkah, maka tak heran orang berkali-kali kembali ke Mekkah, di tambah lagi pahala yang di ganjar Allah SWT jika kita beribadah di Masjidil Haram. Membuat muslim "tergila-gila" kembali lagi. Disini saya akan menceritakan pengalaman saya umroh dari Khobar, dengan menggunakan visa business, dan sedikit tips-tips agar ibadah Bapak/Ibu lebih nyaman disana.

Thursday, May 27, 2010

Pekerja Sejati..

Bapak/Ibu,

Saudi Arabia negara yang unik. Sangat menjanjikan bagi banyak orang. Orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru negara. Easy money in here..begitu kata teman saya yang orang barat, yang bekerja sebagai salah satu manager di sini. Free tax, housing di tanggung, medical, school provided, car provided, flight ticket back provided, begitu bunyi tawaran perusahaan-perusahaan di sini. Praktis uang gaji bisa di simpan sesimpan-simpannya untuk di bawa pulang ke negara masing-masing.

Negara yang punya uang, tapi relative masih minim pekerja. Mereka membangun mega proyek di sini, bukan yang skala kecil. Selalu, the biggest refinery, the biggest petrochemical, dan the biggest lainnya. Saudi memang butuh pekerja.

Bagi orang-orang barat yang punya keahlian, ini ladang yang luar biasa tentunya. Mega proyek...., sangat menantang. Barat sekarang memang yang memegang kendali teknologi. Walaupun tidak sedikit yang cuma beruntung berasal dari barat dan bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Tidak sedikit pula pekerja skill yang berasal dari Timur yang tidak kalah keahliannya. Bahkan mungkin jumlahnya jauh lebih besar.

Seiring dengan berjalannya waktu, Saudi sepertinya menyadari bahwa, rakyatnya harus di didik untuk bisa menjadi motor utama perusahaan disini. Pekerja-pekerja asing mulai dikurangi. Saya belum melihat dampaknya ke pekerja yang berasal dari negara non barat. Tapi orang-orang barat disini mulai dipangkas karena mungkin salah satunya cost mereka yang besar. Sang expat dari barat digantikan oleh orang Saudi, dan sebagai pendampingnya, mereka menggunakan tenaga dari negara Timur. Saya tidak mau terjebak perdebatan kok si Barat di gaji lebih besar dan si Timur lebih kecil walaupun punya keahlian sama. Saya ga menyalahkan mereka sih, dapat gaji yang besar. Wong,di negaranya juga cost of living besar, atau gaji orang timur yang kekecilan dinegaranya ?? ntah lah..

Makanya ketika ada pertanyaan soal standard gaji, saya cenderung untuk menjawab, berapa cost of living disini, jadi Bapak/Ibu bisa tahu kira-kira bakal bisa saving berapa. Perusahaan (Government of Saudi owned company) disini sepertinya tidak memberi ruang untuk negosiasi, namun berbeda jika seandainya Bapak/Ibu bekerja di perusahaan multinational company disini. Saya melihat ada peluang untuk itu. Namun, semua bisa di bicarakan dan di coba, bukan begitu ?

Bagaimana dengan pekerja non-skill ? Woi.. jumlahnya jauh lebih besar. Merekalah pekerja-pekerja sejati yang coba mengadu nasib demi hidup yang lebih baik untuk anak-anak dan istrinya. Ah.. terus terang sebenarnya saya tidak melihat ada perbedaan anatara pekerja skill dan non-skill dalam hal ini. Toh, semuanya juga datang kemari demi hidup yang lebih baik. Bener ga ? Tapi pekerja non skill tidak bisa membawa keluarganya disini. Hanya pekerja yang berpredikat minimal Technician yang bisa membawa keluarga ke sini, begitu menurut peraturan Saudi.

Jarang pekerja non-skill ini pulang setahun sekali. Umumnya 2 hingga 3 tahun sekali. Saya tidak bisa membayangkan berpisah dari anak dan istri selama setahun. Sebulan aja berat rasanya. Mungkin saya yang terlalu sentimentil ? Tapi menurut saya ini masalah sosial yang lain. Eh.. banyak juga lho pekerja yang skill tidak membawa keluarga ke sini. Tapi umumnya itu karena itu pilihan mereka. Mereka memilih untuk tidak membawa keluarga...Saya sering mengamati para pekerja Non-Skill disini. Membuat kaki saya tetap ditanah.. to keep my feet on the ground ...itu kata rekan saya sorang bule yang bijaksana...how lucky I am

Saudi Visa di Indonesia

Bapak/Ibu,

Ada yang tertarik ingin tahu cara mengurus visa ke Saudi ?
Umumnya orang yang ke Saudi itu paling untuk urusan Haji atau Umroh. Biasanya sudah di urusin oleh agent atau kalau yang haji melalui departemen agama, visa sudah di urus oleh mereka. Bener ga ?

Trus bagaimana Bapak/Ibu yang perlu visa untuk keperluan business ? siapa tahu Bapak/Ibu tertarik ingin ekspor/impor unta ke Indonesia, atau ingin impor air zam-zam. Trus gimana cara mengurus visa business nya ? Ternyata sama saja Pak/Bu.. harus melalui agen juga..Ada agen-agen khusus yang telah ditunjuk oleh Saudi embassy di Indonesia untuk mengurus ini. Paling tidak itu pengalaman saya. Saya datang pertama kali dengan visa business. Kalau Bapak/Ibu perlu kontak agen tersebut, silahkan kontak saya, nanti insya Allah saya kasi. Syarat-syarat pengurusan business visa sebagai berikut:

1. Invitation letter dari sang employer di Saudi.
2. Sijil tijari (semacam surat registrasi sang employer di Saudi)
3. Surat dari perusahaan Bapak/Ibu di Indonesia.
4. Paspor
5. Poto paspor size 2 lembar.
6. Bayar duit ke si agen.. Pengalaman saya, untuk single entry satu juta dan multiple entry dua juta..

Untuk invitation letter dan Sijil Tijari cuma poto copy doang kok Pak/Bu, jadi bisa di send by email. Proses visa-nya 2 atau 3 hari kerja. Tergantung mood..

Wednesday, May 5, 2010

First day..

Oke.. Saya sambung ya ceritanya..

Saya based di kota Khobar. Bagi yang tidak tahu Khobar, kota ini berbatasan langsung dengan dengan Bahrain. Kurang lebih satu jam perjalanan naik mobil. Akhirnya saya tahu kenapa saya kerja di Saudi, tapi kok interview-nya di Bahrain. Karena, orang-orang bule yang meng-interview saya tinggalnya di Bahrain. Jadi setiap hari, mereka pulang pergi Bahrain -Khobar. Kenapa ya mereka ga tinggal di Saudi Aja ? Jawabannya karena berbagai sebab. Bahrain memang bebas sekali. Jauh lebih bebas dari Saudi Arabia atau bahkan Indonesia. Mulai dari acara TV, life style, makanan, semuanya bebas..bas..bas. Udahlah, saya tidak mau cerita soal negara ini, karena tidak sesuai dengan tema blog ini. Kalo mau, Bapak/Ibu bisa buat sendiri blog yang judulnya Indonesia di Bahrain :).

Peraturan Saudi Arabia mengatakan "..kalo kamu masuk Saudi dengan visa visit/business baru (fresh, single entry atau multiple entry yang belum pernah di pakai di Saudi) kamu harus melalui proses finger print di imigrasi Saudi ketika kamu mau masuk". Proses ini (finger print) harus diulang setiap kali kita ganti Visa visit/bussines. Untuk masuk kota Khobar bisa lewat airport Dammam atau lewat Airport Bahrain. Jika lewat airport Dammam, imigrasi ada di airport-nya ketika kita mau keluar, sekalian cap paspor. Sedang jika masuk melalui Bahrain imigrasi ada di perbatasan (bukan di Airport Bahrain ya..). Airport Dammam ke Khobar dapat di tempuh dalam satu jam perjalanan. Sedangkan dari Airport Bahrain ke Khobar juga satu jam perjalanan. Loh.. kok sama ? iya, emang sama..Cuma dari pengalaman teman-teman, jika dengan visa visit/bussines baru mereka lebih senang masuk melalui Bahrain. Alasannya, karena antrian buat menunggu finger print di imigrasi tidak panjang. Pengalaman saya, 10-15 menit sudah beres. Sedang teman yang masuk melalui airport Dammam, Wadoooh !!!... bisa tiga jam antrian nunggu finger print, rame soalnya.

Ada cerita menarik ketika pertama kali saya masuk Saudi Melalui Bahrain. Saya sudah punya visa business single entry untuk satu bulan tinggal di Saudi. Terus saya tanya ke orang kantor saya di Saudi. "Apakah saya perlu visa Bahrain ? " orang kantor saya jawab, ..."karena kamu sudah punya visa Saudi, maka kamu bisa masuk Bahrain dengan visa transit 24 jam di Airport Bahrain. Kamu tinggal bilang ke imigrasi Bahrain bahwa kamu cuma ingin ke Saudi Arabia melalui King Fahd Causway. Bayar dua dinar Bahrain atau dua puluh rial, terus nanti kamu bakal di kasi 24 jam transit visa". Oke, tanpa rasa curiga, saya siap berangkat ke Saudi. Malam itu saya check in di Airport tercinta kita Soekarno Hatta dengan pesawat Qatar Airways. Orang counter check in nanya.." Bapak mau ke Bahrain ? ... ya !! jawab saya. "..boleh saya minta visa Bahrain-nya ? ... " ga perlu visa Bahrain mas, karena saya pemegang Visa Saudi, dan cuma mau transit untuk melalui King Fahd Causway. Nanti di Airport Bahrain saya di kasi 24 jam transit visa, jawab saya dengan gagahnya. "Ok, sebentar ya Pak, kita tanya dulu. Ga lama si petugas balik lagi dan bilang.. " maaf Pak, Bapak harus punya Visa Bahrain untuk berangkat. Karena Bapak bukan pemegang residence permit Saudi. Loh, tapi orang kantor saya bilang, saya bisa dapat visa transit 24 jam di Bahrain. Perdebatan pun berlangsung. Sampai akhirnya saya kontak bos saya yang ada di Bahrain, untuk ngomong langsung dengan si petugas, tapi si petugas tetap tidak mengizinkan saya berangkat. Akhirnya saya batal berangkat malam itu.

Malam itu di Bahrain, setelah mendengar saya gagal berangkat gara-gara ga punya Visa Bahrain, si bos langsung meluncur ke Airport Bahrain untuk bertanya langsung ke Imigrasi Bahrain di Airport. Tau ga apa jawaban imigrasi Bahrain ? " GA MASALAH, KAMI BISA MENGELUARKAN VISA TRANSIT 24 JAM UNTUK INDONESIA YANG PUNYA VISA BUSSINES" Nah., loh gimana sih petugas check in Soekarno Hatta ??

Malam itu juga si bos ngirim e-mail ke saya, minta maaf soal kejadian ini. Sebenarnya untuk mendapatkan visa Bahrain sangatlah mudah, namun masalahnya, ini sudah malam dan besok adalah hari Jumat. Bahrain Jumat dan Sabtu libur. Di putuskan akhirnya saya berangkat besok malam, dan si bos akan meminta bantuan sebuah perusahaan di temen-nya di Bahrain untuk membuat supporting letter, buat di tunjukin ke petugas check in, yang mengatakan bahwa sudah di confirm ke imigrasi bahwa si anu bisa untuk mendapatkan Visa transit.

Besok malamnya berangkatlah lagi saya ke Soekarno Hatta, destination Bahrain. Kembali perdebatan yang sama terjadi, namun dengan supporting letter dari perusahaan Bahrain, akhirnya mereka luluh, dan mengizinkan saya check in. Namun, begitu mereka melihat Visa Saudi saya,...Hmm maaf Pak, Visa Saudi Bapak Validity-nya berakhir besok. Jadi Bapak sepertinya ga bisa juga berangkat malam ini. WADOOH !!!, saya liat lagi wah bener nih, Visa Saudi saya Validity-nya cuma 15 hari dengan duration of stay 30 day. Gagal lagi saya berangkat. Sebelum pulang, saya makan empek-empek di terminal International.

Hikmah, jangan malas untuk melihat Visa validity..atau Bapak/Ibu cuma bisa menikmati empek-empek di terminal international dan gagal berangkat. Trus, Pak/Mba petugas, wadooh !!! yang valid dong..